Monday, October 1, 2012

KONSENTRASI LARUTAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR (C-XI-03)

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Endang Kumolowati, M.Si., Apt.


DISUSUN OLEH :
ACHMAD BURHANUDDIN ( 011.11.002 )

ASISTEN DOSEN :
Ida Kusumawati, A.Md


Teknologi Pengolahan Sawit
Institut Teknologi dan Sains Bandung
2012



Konsentrasi larutan
I.                  Tujuan
Membuat larutan dengan berbagai konsentrasi
II.               Dasar Teori
Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi tetapi memiliki komposisi merata atau serba sama di seluruh volumenya.  Suatu larutan mengandung satu zat terlarut atau lebih dari satu pelarut.  Zat terlarut merupakan komponen yang jumlahnya sedikit, sedangkan pelarut adalah komponen yang terdapat dalam jumlah yang banyak.

Fasa larutan dapat berupa fasa gas, cair atau fasa padat yang bergantung pada sifat kedua komponen pembentuk larutan.  Apabila fasa larutan dan fasa zat-zat pembentukannya sama, zat yang berada dalam jumlah terbanyak umumnya disebut pelarut sedangkan zat lainnya sebagai zat terlarutnya.

Tabel  Jenis-jenis Larutan
Jenis larutan
Zat penyusun
1.   1.  Larutan gas
campuran antar gas antar uap (dalam semua perbandingan).
Contoh: ”udara” dengan N2 sebagai pelarut
22  2.  Larutan cair
Zat padat, zat cair, atau gas melarut kedalam pelarut pelarut cair.
Contoh: iod dalam alkohhol; asam asetat dalam air, O2 dalam air dan seterusnya
3.   3.  Larutan padat
a.    a. Gas terlarut dalam zat padat
b.         b. .Zat cair terlarut dalam zat padat
c.      c.  Zat padat terlarut dalam zat padat (disebut aliasi)

Gas H2 dalam logam paladium; gas N2 dalam logam titanium. 
Raksa dalam logam emas (amalgam),

Seng dalam tembaga (disebut kuningan); karbon dalam besi (disebut baja); timah dalam tembaga (disebut perunggu); dan sebagainya.

Selain itu, masih ada  beberapa macam penggolongan lain teradap larutan, yaitu : 

·         Berdasarkan banyak jenis zat yang menyusun larutan
1.       larutan biner (tersusun dari dua jenis zat);
2.       larutan terner (3 jenis zat  penyusun);
3.       larutan kuarterner (4 jenis zat penyusun).

·         Menurut sifat hantaran listriknya
1.       larutan elektrolit (larutan yang dapat menghantarkan arus listrik), dan
2.        larutan non elektrolit (larutan yang tidak dapat mengantarkan arus listrik). 
·         Sedangkan ditinjau dari kemampuan suatu zat melarut ke dalam sejumlah pelarut pada suhu tertentu

1.      Larutan tak jenuh (unsaturated-solution); larutan yang masih dapat melarutkan sejumlah zat terlarutnya.
2.      Larutan jenuh (saturated-solution); larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah maksimal  pada suhu tertentu.
3.    Larutan lewat jenuh (supersaturated-solution); larutan yang mengandung zat terlarut melebii jumlah maksimalnya.

Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah pelarut, dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam sejumlah volume tertentu dari pelarut. Berdasarkan hal ini muncul satuan-satuan konsentrasi, yaitu fraksi mol, molaritas, molalitas, normalitas, ppm serta ditambah dengan persen massa dan persen volume (Baroroh, 2004).

Pada umumnya konsentrasi dinyatakan dalam satuan fisik, misalnya satuan berat atau satuan volume atau dalam satuan kimia, misalnya mol, massa rumus, dan ekivalen.

Tabel 3. Satuan konsentrasi
Lambang
Nama
Definisi
Satuan fisika:
% W/W

persen berat

gram zat terlarut per
   gram larutan      X 100 %
% V/V
persen volume
mL zat terlarut per
    mL larutan        X 100%
% W/V
Persen
gram zat terlarut per
   mL larutan         X 100%
% mg
persen miligram
mg zat terlarut per
100 mL larutan     X 100%
Ppm
parts per million
1 mg zat terlarut per
    1L larutan         X 100%
Ppb
parts per billion
1 µ g zat terlarut per
     1L larutan        X 100%
Sifat kimia:
X

fraksi mol

mol zat terlarut per
mol zat terlarut+mol pelarut
F
Formal
massa rumus zat terlarut
liter larutan
M
Molar
mol zat terlarut per
kg larutan
M
Molal
mol zat terlarut per
kg pelarut
N
Normal
Ekivalen zat terlarut per
       Liter larutan
m Eq
Miliekivalen
Seperseribu mol muatan
Osm
Osmolar
Osmols per
   liter larutan     

Cara menyatakan konsentrasi dalam satuan fisik yaitu, persen berat, % W/W, persen volume % V/V, persen berat-volume %W/V, gram zat terlarut dalam satu liter larutan, milligram zat terlarut dalam satu milliliter larutan, parts per mllion, ppm (bagian per sejuta), parts per billion, ppb (bagian per milliard).  Cara menyatakan konsentrasi  dalam satuan kimia yaitu, kemolaran (M), kenormalan (N), keformalan (F), kemolalan (m) dan fraksi mol.

Untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu harus diperhatikan:
1.      Apabila dari padatan, pahami terlebih dahulu satuan yang diinginkan. Berapa volum atau massa larutan yang akan dibuat.

2.      M1 . V1 = M2 . V2
Apabila larutan yang lebih pekat, satuan konsentrasi larutan yang diketahui dengan satuan yang diinginkan harus disesuaikan. Jumlah zat terlarut sebelum dan sesudah pengenceran adalah sama, dan memenuhipersamaan :
M1 : Konsentrasi larutan sebelum diencerkan
V1 : Volume larutan atau massa sebelum diencerkan
M2 : Konsentrasi larutan setelah diencerkan
V2 : Volume larutan atau massa setelah diencerkan

3.      Pembuatan Larutan dengan Cara Mengencerkan Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang - kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadakmendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit (Brady, 1999).

III.           Alat Dan Bahan
No
Alat dan Bahan
Jumlah
Merk
1
Gelas kimia; 100 ml
1buah
Pirex
2
Gelas kimia; 250 ml
1 buah
Pirex
3
Gelas ukur; 25 ml
1 buah
Pudak Scientific
4
Labu volumetrik ; 50 ml
1buah
Iwaki
5
Pipet ukur dengan pemompa
1 buah
Witeg
6
Neraca timbangan 311 gram
1 buah
Pudak Scientific
7
Batang pengaduk
1 buah
-
8
 Corong
1 buah
-
9
Spatula
1 buah
-
10
Sendok
1 buah
-
11
Akuades
Secukupnya
-
12
NaOH
1 gram
-
13
HCl 36%
2,1 m
-

IV.           Prosedur / Cara Kerja

A.   
Diaduk sampai larut
 
Membuat larutan NaOH 0.5M
 





b. 
B.    
diaduk
 
Membuat larutan HCl  0.5 M

 













V.               Data Pengamatan

Tabel Hasil Pembuatan NaOH
No
Larutan

Mr
Larutan yang akan dibuat
Massa yang harus ditimbang
Konsentrasi
Volume
1
NaOH
40
0,5M
250 ml
5 gram


Tabel Hasil Pembuatan HCl
No
Larutan

Kadar
ρ (g / ml )
Larutan yang akan dibuat
Volume Larutan pekat yang dibutuhkan
Konsentrasi
Volume
1
HCl
36%
1,19
0,5 M
250 ml
10,64 ml

VI.           Analisis Data
Dari tabel hasil percobaan yang telah dilakukan dapat dilakukan analisis sebagai berikut :
1.      Pembuatan larutan 250 ml NaOH 0,5 M
Massa NaOH sebanyak 5 gram diperoleh dari perhitungan

Dik : NaOH  0,5 M 250 ml = 0,25 liter
            ( Ar Na = 23, O = 16, H = 1 )
Ditanya : Massa NaOH yang harus ditimbang
Jawab :
Mr NaOH =  23 + 16 + 1 = 40 gram/mol

M = Mol / liter
Mol zat = 0,5 mol/ liter x 0,25 liter
Mol zat = 0,125 mol

Mol = gram / Mr
Berat NaOH = 0,125 mol x 40 gram/mol
Berat NaOH =  5 gram
Jadi untuk pembuatan larutan 250 ml NaOH 0,5 M , diperlukan sebanyak 5 gram NaOH padat yang dilarutkan dengan akuades dalam labu volumetric hingga volume tepat 250 ml.

2.      Pembuatan larutan 250 ml HCL 36% 0,5 M
Volume larutan HCl pekat sebanyak 10,64 ml diperoleh dari perhitungan

HCl 36%                  % massa = 0,36 %
 Mr HCl = 36,5 gram/ mol
         ρ    =  1,19
Molar HCl pekat = 1000 x ρ x % massa        
                                     Mr HCL
                           = 1000 x 1,19 x 0,36     = 11,74 M
                                    36,5
Diketahui : M1 = 11,74 M                              ditanya : V1 = HCl pekat ?
                        M2 = 0,5 M
                        V2 = 250 ml
Jawab :
V1 x M1     = V2 x M2
V1 x 11,74  = 250 x 0,5
  V1 = 10,64 ml
Jadi untuk membuat larutan 250 ml HCl 0,5 M , diperlukan sebanyak 10,64 ml larutan HCl pekat yang dicampur dengan akuades dalam labu volumetrik hingga volum tepat 250 ml.


VII.        Pembahasan

Larutan merupakan campuran homogen antar dua atau lebih zat berbeda jenis.  Ada dua komponen utama pembentukan larutan, yaitu zat terlarut (solution), dan pelarut  (solvent). Dalam percobaan ini, yang bertindak sebagai pelarut adalah akuades sedangkan zat terlarut adalah NaOH dan HCl.
 Dalam pecobaan ini jumlah NaOH dan HCl yang digunakan tidak sesuai dengan perhitungan yang ada diatas dikarenakan alat yang digunakan tidak memenuhi ( labu volumetric yang seharunya 250 ml, tetapi yang tersedia hanya 50 ml dan 100 ml ) sehingga dilakukan manipulasi tetapi tidak mengakibatkan keakuratan percobaan terabaikan yaitu dengan cara membagi hasil perhitungan yang diperoleh untuk dua kelompok. Untuk kelompok kami yang menggunakan labu volumetric 50 ml , setelah dilakukan perhitungan ternyata NaOH dan HCl yang diperlukan masing – masing adalah 1 gram dan 2,1 ml.

 NaOH = 5 gram                      1 gram              labu volumetric 50 ml
                               2 gram              labu volumetric 100 ml
 HCl = 10,64 ml                        2,1 ml              labu volumetric 50 ml
                                      4,2 ml             labu volumetric 100 ml

·         Pembuatan larutan NaOH 0.5M
pada percobaan pembuatan larutan NaOH  0,5 M pertama yang dilakukan adalah menuangkan akuades kedalam gelas kimia serta menimbang NaOH padat sebanyak 1 gram, lal mencampurkannya dan di homogenkan dalam labu volumetrik sebanyak 50 ml.
·       
  Pembuatan larutan HCl 0,5 M
Pada percobaan ini hal yang pertama dilakukan adalah menuangkan akuades dalam gelas kimia dan memipet sebanyak 2,1 ml larutan HCl pekat dan mencampurkannya, lalu di masukkan dalam labu volumetric dengan penambahan akuades hingga volume menjadi 50 ml. Perlu menjadi perhatian bahwa jangan sampai menuagkan terlebih dahulu HCl karena akan berbahaya , yaitu akan menimbulkan percikan yang bisa melukai kulit karena akan terjadi reaksi kimia yang menimbulkan kalor.

Dalam percobaan ini untuk mementukan konsentrasi larutan yang ada dengan menggunakan molaritas larutan, yaitu jumlah mol zat terlarut yang dilarutkan dalam setiap liter larutan. Molaritas larutan memiliki hubungan dengan kadar larutan yang bisa terlihat dari rumus
Molaritas larutan =    
Kadar larutan atau persen massa merupakan banyaknya kadar zat terlarut yang ada dalam 100 g larutan, sehingga semakin besar molaritasnya maka semakin besar juga kadar zat terlarutnya.

VIII.    Simpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pembuatan  larutan dengan berbagai konsentrasi untuk mengetahui konsentrasinya bisa dengan banyak cara salah satunya adalah dengan Molaritas yang menunjukkan banyaknya mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. untuk yang berfasa cair dengan pengenceran
IX.           Daftar Pustaka
                                                  



X.               Lembar Pengesahan
  1. Judul Kegiatan            : Praktikum Kimia Dasar
  2. Kode Percobaan          : C- Xi – 03
  3. Topik Percobaan         :  Konsentrasi Larutan
  4. Tujuan Percobaan        : Membuat Larutan Dengan Berbagai Konsentrasi
  5. Praktikan                     :
           
a.       Nama                     : Achmad Burhanuddin
b.      NIM                      : 011.11.002
c.   Jurusan                  : Teknologi Pengolahan Sawit    
       6.  Tanggal Pelaksanaan   :  30 April 2012
       7.   Waktu Pelaksanaan    : 08.00 - Selesai WIB
       8.   Tempat Pelaksanaan   : Laboratorium Kimia ITSB



                                                                                                Cikarang, April 2012
                  Menyetujui,                                                    
                  Asisten dosen                                                                          Praktikan

      (Ida Kusumawati, A.Md.)                                                      (Achmad Burhanuddin)
NIP.                                                                                          NIM. 011.11.002



Mengetahui,
DosenPengampu


Dr. EndangKumolowati, M.Si.Apt.
NIP.


XI.           Lampiran

Tindak Lanjut
1.         Bagaimana cara menentukan konsentrasi larutan yang berasal dari zat padat yang bersifat higroskopis (penarik air)?
·         Dengan cara perhitungan dengan menggunakan rumus Molaritas
Molaritas =  




 
 



Sehingga akan diketahui massa zat yang diperlukan, setelah itu dilakukan penimbangan sesuai dari hasil perhitungan, lalu dilarutkan dengan akuades sesuia dengan yang dibutuhkan lalu dilakukan titrasi.

2.      Tuliskan langkah-langkah pembuatan larutan berikut ini dengan konsentrasi 1 M sebanyak 100 ml :
a.                            CuSO3
·         Diketahui : mr CuSO4 = 160
  mol CuSO4                = 0,1 M x 0,1 L = 0,01 mol
  massa CuSO4                        = 0,01 x Mr CuSO4
= 0,01 x 160 = 1.6 gram
kemudian lakukan tahapan berikut :
1.      Timbang massa CuSO4 sebanyak 1,6 gram
2.      Masukkan dalam labu ukur 100 ml yang sebelumnya sudah diberi sedikit akuades
3.      Masukkan sedikit akuades, kocok hingga CuSO4 larut, tambahkan akuades hingga tepat 100 ml memnggunakan pipet tetes. Kocok sampai homogen
4.      Masukkan larutan CuSO4 1 M kedalam botol reagen.

b.                           KMnO4
·         Diketahui : mr KMnO4 = 158
  mol    KMnO4           = 0,1 M x 0,1 L = 0,01 mol
  massa KMnO4           = 0,01 x KMnO4
= 0,01 x 158  = 1,58 gram

Timbang lebih kurang 1,58 g KMnO4 di botol timbang atau gelas arloji, larutkan dalam 1 liter air, didihkan selama 15 – 20 menit saring dengan gelas wool/ gooch crucible
Standarisasi
Pipet 25,0 ml larutan 0,1 N as oksalat + H2SO4 4 N 15 ml encerkan dengan akuadest hingga 100 ml dan panaskan pada 80 – 90 , titrasi dengan KMnO4 samapi warna rose tetap


c.       HNO3
·         Diketahui
       HNO3 35 %  dengan molaritas 14.545 M

       V1 x M1    = V2 x M2
V1 x 14.545 M            = 0,1 L x 1 M
            V1        =  0,00687 L = 6,87 ml
Pembuatan larutan HNO3 1 M dilakukan dengan melarutkan 6,87 mL larutan asam nitrat pekat 35% dengan aquades hingga volume 100 ml didalam labu volumetric lalu dikocok hingga homogen.

d.      H2SO4
·         Diketahui H2SO4 pekat dengan molaritas 18 M
V1 x M1           = V2 x M2
V1 x 18 M       = 0,1 L x 1 M
            V1                    = 0,0056
                                    = 5,56 ml
-       Pipet 5,6 ml H2SO4 pekat dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml yang telah diisi dengan akuades sebanyak 50 ml.
-       Biarkan hingga labu ukur terasa dingin, kemudian tambahkan akuades hingga tinggi permukaan larutan 0,5 cm hingga 1 cm
-       Keringkan aquades yang menempel pada leher labu ukur dengan menggunakan tisu
-       Dengan menggunakan pipet tetes tambahkan aquades hingga tanda batas
-       Tutup labu takar dan dibolak-balikkan labu takar  sambil dipegang tutupnya selama beberapa kali.

3.      Hitunglah jumlah HNO3 dan H2SO4 pekat yang dibutuhkan untuk membuat larutannya dengan konsentrasi maing-masing 1 M sebanyak 100 ml!
a.       H2SO4
Diketahui H2SO4 pekat dengan molaritas 18 M
V1 x M1           = V2 x M2
V1 x 18 M       = 0,1 L x 1 M
            V1                    = 0,0056
                                    = 5,56 ml
b.      HNO3
                         HNO3 35 %  dengan molaritas 14.545 M
       V1 x M1                 = V2 x M2
       V1 x 14.545 M     = 0,1 L x 1 M
            V1                    =  0,00687 L = 6,87 ml

Jadi H2SOdan HNO3yang dibutuhkan untuk membuat larutan dengan konsentrasi 1M sebanyak 100 ml masing – masing adalah 5,56 ml dan 6,87 ml


download lengkap materinya disini

No comments:

Post a Comment